BIDADARI SENJA
Aku seperti mimpi saat menyaksikan hujan diiringi pelangi, kulihat seseorang menuruni tangga warna yang tersusun rapi dengan pakaian yang begitu menakjubkan. Air yang jatuh dari langit laksana tinta yang menjamah kertas putih. Setiap permukaan rata dengan goresan tinta yang penuh dengan makna. setiap tetes air yang menerpa atap rumah beriringan dengan denyut jantungku yang kian tak teratur terkena angin badai.
Sedikit saja ada celah di sela-sela kesibukanku bayangannya selalu muncul seperti iklan lewat dalam tayangan televisi. Kadang aku merasa kesal dengan semua ini, bayangkan saja saat kita sedang menonton film lagi seru-serunya tiba-tiba iklan menyelonong saja tanpa permisi, jengkel, marah, geram bercampur menjadi satu. Namun di sisi lain aku merasa bahagia, disela-sela kesibukanku bayangannya hadir untuk menghilangkan penat yang selama ini mengurungku.
Aku seperti mimpi saat menyaksikan hujan diiringi pelangi, kulihat seseorang menuruni tangga warna yang tersusun rapi dengan pakaian yang begitu menakjubkan. Air yang jatuh dari langit laksana tinta yang menjamah kertas putih. Setiap permukaan rata dengan goresan tinta yang penuh dengan makna. setiap tetes air yang menerpa atap rumah beriringan dengan denyut jantungku yang kian tak teratur terkena angin badai.
Sedikit saja ada celah di sela-sela kesibukanku bayangannya selalu muncul seperti iklan lewat dalam tayangan televisi. Kadang aku merasa kesal dengan semua ini, bayangkan saja saat kita sedang menonton film lagi seru-serunya tiba-tiba iklan menyelonong saja tanpa permisi, jengkel, marah, geram bercampur menjadi satu. Namun di sisi lain aku merasa bahagia, disela-sela kesibukanku bayangannya hadir untuk menghilangkan penat yang selama ini mengurungku.
Aku layaknya burung di dalam sangkar yang terpantau selama 24 jam, itu yang berkali-kali terucap dalam benak Ahmad. Aku dari kecil memang sering menyendiri, tidak suka bergaul sehingga tak punya banyak teman. Aku lebih akrab dengan kesunyian dan kehampaan. Ini kali pertama ada seseorang yang bisa menggetarkan hati ini. Rasa itu tumbuh saat aku mulai memperhatikannya.
Kelihatannya aku terpana, terpesona melihat tutur sapanya yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Siapakah dia? Tiada satu orang pun yang tahu. Dia datang memberi warna dalam hidupku. Aku baru sadar ternyata dunia begitu indah, betapa tidak… coba bayangkan gunung-gunung lengkap dengan segala tumbuhannya, ombak laut mendayu-ndayu seperti sebuah tarian, awan dengan segala macam lukisannya dan malam dengan gemerlap bintangnya.
Tanpa sadar sudah setahun lebih aku memperhatikannya. Namun tak satu patah kata pun yang mengarah bahwa aku ada rasa padanya. Dia tak pernah tahu apa isi hati ini, dia hanya tahu aku hanyalah teman biasa bukan pengagum beratnya. Aku hanya bisa tersenyum di hadapannya, tatka dia berjalan dengan teman laki-lakinya, pedih memang, sakit hati ini rasanya seperti ditusuk-tusuk peniti.
Namun aku bisa apa, aku hanya bisa berdo’a semoga kau bahagia dengannya. Aku ini bukanlah siapa-siapa mungkin aku hanyalah pengagum bayanganmu saja. Aku kembali seperti mimpi melihat pelangi dikala hujan turun, namun kali ini yang menuruni tangga warna membawa anak panah, dia terlihat begitu anggun namun tanpa sadar dia melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai jantung hatiku.
Aku mengerang-ngerang kesakitan namun suaraku tak cukup jelas untuk di dengar. Dengan kelihaiannya dia terus melepaskan anak panah dari busurnya bertubi-tubi seiring dengan hujan yang menghantam tanah pasir. Hatiku hancur berkeping-keping terbawa arus sungai hingga butiran-butiran pasir itu tersusun kembali di pinggir kali dekat hutan.
Hatiku tersusun kembali dengan bantuan alam, di sini aku beradaptasi dengan lingkungan baru, lingkungan yang panas dan kering jauh dari air hujan. Kali ini adalah satu-satunya yang airnya terus mengalir dan tak pernah kering. Di kala mentari pagi muncul aku selau menatap ke langit melihat bayang-bayang yang selama ini ku nanti namun tak pernah kunjung kembali.
Tak di sangka suatu hari langit tiba-tiba mendung dan seketika itu juga hujan turun, aku seperti melihat mimpi itu kembali muncul aku melihat seseorang turun menuruni tangga warna, dia tak pernah berubah tetap anggun mempesona. Namun agak sedikit berbeda disorot matanya terlihat bingung dan sedih saat kupanggil dia tak kunjung menjawab.
Sepertinya dia tuli, bisu dan buta karena kehilangan selendang kesayangannya. Dia Nampak seperti burung yang tak bersayap, tidak bisa pergi kemana-mana. Dia semakin terlihat pujat dan kedinginan, hati kecilku merasa iba tanpa pikir panjang kulepas jaket dan kukenakan padanya sembari kubelah sajadahku menjadi dua dan kujadikan selendang untuknya.
Beberapa saat kemudian dia terbang ke angkasa memperlihatkan betapa luasnya jagat raya. Aku tertegun melihat planet yang terus berputar dan akhirnya kembali ketitik semula dan begitu seterusnya. Kini aku sadar kesabaranku membuatku kembali dekat dengannya, dia hanya berpetualang untuk menemuiku dalam arah yang berbeda.
Aku selalu sabar menantimu duhai bidadari senja….
dramatis,,,,, :'((
BalasHapusDramatis bin gerimis hee
BalasHapuspengalaman pribadi ya mas?? :D viss
BalasHapusmaybe yes,,,, maybe no,,,, :)
Hapus