Sejarah berkembangnya Agama islam di Desa Kalipoh ada beberapa versi. Menurut penuturan dari Sumarwan, beliau adalah
salah satu mantan kepala desa di Desa Kalipoh. Beliau mengatakan bahwa Islam
berkembang di Desa Kalipoh di bawa oleh salah satu tokoh besar yang bernama “
Hasan Musnad”. Pendapat ini didukung dengan hasil diskusi beliau dengan salah
satu anak kandung Mbah Hasan Musnad yaitu “Ahmad Jajuri, panggilannya Ahmad Bajuri”.
Beliau beralamat di RT 03 RW 05 Desa Tlagasari Kecamatan Ayah Kabupaten
Kebumen.
Untuk mengenal siapa Mbah Hasan Musnad perlu mengetahui silsilah keturuannya. Mbah Hasan Musnad pernah menikah dua kali. Istri pertama bernama Jajuli. Hasil pernikahan Mbah Hasan Musnad dengan Mbah Jajuli dikaruniai dua oran anak yaitu Jajuli dan Biru. Jajuli menikah dengan Marsinem Dusun Ranceban Desa Kalipoh kecamatan Ayah. Sedangkan Biru menikah dengan Dulah Mursid Desa Jatijajar Kecamatan Ayah. Ketika istrinya meninggal Mbah Hasan Musnad menikah lagi dengan adik istrinya yaitu Suriah. Dari pernikahannya dengan Mbah Suriah Mbah Hasan Musnad dikaruniai 7 orang anak.
Anak pertama bernama Sireng menikah dengan
San Ngumar Dusun Bacok Desa kalipoh Kecamatan Ayah. Anak kedua bernama Suliyah menikah dengan mbah nama Dusun Ranceban Desa
kalipoh Kecamatan Ayah. Anak ketiga
bernama Romiyah menikah dengan Madreja jetis Cilacap Banyumas. Anak keempat bernama Kusmiyati tinggal di Trasan
jatijajar. Anak kelima bernama Mutohiroh
menikah dengan Mad Dusman Desa Tlogosari Kecamatan Ayah. Anak keenam bernama Sairah nikah dengan
Santayib Desa Tlogosari Kecamatan Ayah. Anak ketujuh bernama Ahmad Jajuri (sering dipanggil Ahmad Bajuri)
menikah dengan Lasinem Dusun Tlogosari kecamatan Ayah.
Menurut Bajuri Bapaknya tidak pernah bercerita kepada keluarganya dari mana beliau berasal, yang diketahui orang tuanya tinggal di Desa Jatijajar. Dulu bapaknya pernah menjadi penghulu di Rowokele, namun karena dikejar – kejar sama Belanda pindah ke Teba. Beliau pensiun jadi penghulu di Teba kemudian digantikan oleh anaknya yaitu Bapak Jajuli. Setelah pensiun beliau datang ke Desa Kalipoh mengikuti anaknya yang ke-dua yang bernama Suliyah kurang lebih sekitar tahun 1932 M. Beliau menghabiskan masa tuanya di Dusun Ranceban RT 05 RW 02 Desa Kalipoh. Di sinilah agama islam mulai berkembang di Desa Kalipoh.
Pada waktu
itu, Dususn Ranceban belum ada masjid sehingga beliau minta menantunya Mbah
Nama untuk dibuatkan langgar (mushola) untuk shalat jamaa’ah dan tempat
mengaji. Di samping itu, beliau juga sering shalat jamaah di Dusun Bacok, pada
musholanya Mbah Santami ayah dari KH Syarifudin (Marsad) sembari mengunjungi
anaknya yang ada di Dusun Bacok. Sedangkan kalau beliau shalat jumat di Masjid
Demak. Ini sudah dibuktikan oleh salah satu muridnya, dia datang ke Demak
sebelum hari jumat, ketika waktu shalat jumat tiba, Mbah Hasan sudah ada di
belakang imam.
Aktivitas keseharian
beliau adalah menulis kitab (buku – buku agama), Al-Qur’an dan dakwah islam. Diantara
buku – buku yang beliau tulis yang diketahui adalah Hari Kiamat, Kitab Bajuri,
Al-Qur’an. Setelah terkumpul beliau pergi berbulan- bulan tidak pulang untuk
menjual kitab dan Al-Qur’an sambil berdakwah.
Untuk
memperlancar dalam mendakwahkan agama islam di Desa Kalipoh sbeliau bersama
Mbah Kartowirejo (ayah dari H. Mahmud) mendirikan masjid di Ranceban sekitar tahun 1940 M dibantu
oleh santri-santrinya. Diantara santri – santri Mbah Hasan Musnad adalah: H.
Atmosuwarno, Sumeri (santri kesayangan mbah Hasan Musnad), Santami, Damun, H.
Khusnan, Dalio, H. Samud, H. Jamin, Tohari, Dulah Kasim, Dulah Ikhsan, Dulah
Sayuti, dan Waluyo.
Dalam
perkembangan islam selanjutnya di Kalipoh telah berdiri beberapa mushola
diantaranya: di Dusun Bacok Mushola Mbah Santami, Pengasuhnya Mbah Santami, di
Ranceban Mushola Mbah Khusnan, pengasuhnya Mbah Khusnan, di Pesawahan Mushola
Mbah Dulah Kurdi, pengasuhnya Mbah Dulah Kurdi, di Kali Kumbang Mushola Mbah
Rana Kana, pengasuhnya Mbah Rana Kana, di Karangcengis Mushola Mbah Muslim,
pengasuhnya Mbah Muslim.
Demikianlah
sejarah singkat tentang perkembangan agama islam di Desa kalipoh. Sejarah ini
diambil dari nara sumber yang pertama Mbah Bajuri yang kedua Bapak Sumarwan, S.Pd.I


