Laman

Rabu, 26 Desember 2012

DIBALIK PERAYAAN TAHUN BARU

 Asyik,,,, hore,,,,,,trot,,,, tret,,,, tiba-tiba di sekolah Atas Angin jadi gaduh tak terkendali sesaat setelah  bunyi bel sekolah dibunyikan. Saat itu, waktu menunjukan pukul 13.30 WIB. Para siswa berlarian meninggalkan sekolah ada yang bersiul, bernyanyi, berteriak dan bahkan ada yang meniup peluit. Maklumlah besok malam adalah perayaan tahun baru.

Malam tahun baru boleh dikatakan surga dunianya anak muda. Mengapa tidak, biasanya pada malam pergantian tahun itu hampir semua anak muda keluar, mereka kumpul di suatu tempat yang lapang menari, bernyanyi, berjoged, dan ada juga yang datang hanya untuk meramaikan suasana saja.

Di sudut lain ada juga yang datang ke daerah yang sepi seperti pegunungan, mereka menikmati indahnya malam ditemani dengan gemerlapnya bintang-bintang, serta menikmati indahnya tarian dedaunan dalam buaian sang rembulan, ditambah lagi apabila ada seorang kekasih di sampingnya, tak bisa dibayangkan hilang sudah rasa penat, pusing, stress selama setahun yang lalu.

Hmmmm,,,,,,,,,,,,,  kelihatannya indah sekali kalau dibayangkan, aku sudah tidak sabar menanti malam itu. Namun aku punya cara yang berbeda untuk menyambut malam pergantian tahun kali ini. Mungkin aku tidak akan pergi kelapang untuk sekedar menari atau bernyanyi dan juga aku tidak pergi ke gunung untuk melihat panorama alam apalagi mengajak kekasih untuk bermain canda tawa.

Aku akan menyambut malam akbar nanti dengan melumuri kertas-kartas putih dengan goresan tinta hitam. Entah bermakna atau tidak, aku hanya ingin mengexpresikan saja dalam rangka menyambut malam pergantian tahun baru. *****

********************

Sambil menunggu detik,,,detik,,,  itu simak sejenak goresan tintaku

Duhai waktu
Aku menangis dalam hiruk pikuk yang kau ciptakan dan
Aku tersenyum dalam keheningan yang kau berikan

Tak terasa kau sudah kembali
Perasaan baru kemarin kita berjumpa dan

Tak terasa kau akan pergi
Padahal baru saja kita akan berjumpa

Kapankah kita akan bercengkrama
Menikmati arti hidup yang sebenarnya
Jika kau datang dan pergi sama sebentarnya?

Kau layaknya seorang  penyihir yang menjamu musafir
Semuanya fatamorgana

Kenapa aku harus tertipu dengan jamuanmu
Padahal di sebrang sana ada jamuan yang istimewa
Menantiku dengan sangat sabarnya